Tanpa terasa 10 tahun sudah saya hidup dan tinggal di . Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Sungai Duku Pekanbaru bersama fery Kenangan Fitri pukul 7.00 pagi pada tanggal 27 Juli 2000, tiba di Sekupang Batam pukul 17.00 dan dilanjutkan dengan fery Sentosa menuju Tanjungpinang. Pukul 18.30 hari itu untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Tanjungpinang, tepatnya di Pelabuhan Sri Bintan Pura dan langsung menuju yang berhadapan langsung dengan .
Esok pagi, sambil menikmati sarapan hotel di lantai 2, suasana China Town sangat terasa waktu saya berdiri di tepi jendela. Hiruk pikuk wilayah Kepala Naga Tanjungpinang ini mengingatkan saya akan film-film Hong Kong yang sering ditonton waktu remaja. Memang daerah Kepala Naga yang berada di kecamatan Tanjungpinangkota ini dihuni lebih dari 90% etnis Tionghoa di mana teman-teman bloggers sering menyebutnya dengan Indochina ( saya sendiri kurang suka dengan istilah ini ). Kepala Naga adalah istilah yang sering digunakan oleh pakar ekonomi untuk menyebut wilayah kekuatan ekonomi suatu kota yang dihuni oleh etnis Tionghoa.
Sekarang setelah 9 tahun, Bintan Centre ( dahulu rawa ) yang berada 9 km dari Tanjungpinangkota, bersiap menjadi Kepala Naga baru. Bintan Centre siap menyaingi Tanjungpinangkota yang sudah ratusan tahun menjadi kekuatan ekonomi. Berbeda dengan Tanjungpinangkota, Bintan Centre diisi oleh berbagai pemain bisnis yang lebih beragam dari berbagai sukubangsa.

Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi Kepulauan Riau memang mewakili keragaman etnis di Pulau Bintan. Bintan sendiri memang dihuni oleh berbagai sukubangsa selama ratusan tahun , sebutlah Melayu, Bugis, Buton, Tionghoa, Flores, Jawa, Sunda , Batak, , Banjar, Ambon, Kawanua dan berbagai sukubangsa lainnya di Indonesia, termasuk orang Nam atau Vietnam yang dulu datang sebagai "Manusia Perahu". Bintan kaya dengan potensi pariwisata dan industri, di samping batu loncatan bagi "pahlawan devisa" atau TKI yang mencari penghidupan baru di Malaysia atau Singapore. Kehidupan berjalan dengan harmonis, penduduk Bintan yang beragam ini berinteraksi untuk kemajuan bersama, maka layaklah disebut dengan "Pelangi di Laut Cina Selatan".
0 komentar:
Poskan Komentar